Minggu, 21 Oktober 2018

Tempatnya

Suatu hari gue kepikiran. Ga kepikiran, sih. Gue cuma kyak, yah, sekelebat aja.
Gue termasuk orang yang jarang cerita perihal pribadi ke orang lain. Sangat jarang, antara lain karena merasa ini urusan gue, lau tau pun paling cuma gitu-gitu aja reaksinya. Ya, based on ke-sotoy-an, sih.. wokwokwok.
Karena, ya kalau sekedar cerita, mending ga usah. Kecuali, dalam cerita tersebut, gue minta/cari solusi.
"Tapi kan mayan cerita supaya lega, Lin."
Yah, klo cuma pengen lega, ngelus-ngelus kucing di tukang pecel ayam udah cukup lah buat gue.

Gue ga cukup "kaya" buat punya "tempat sampah". Atau mungkin "I am my own trash can"?
Recycle bin. Ya, kalau pun tong sampah itu ada di diri gue sendiri, itu lebih cocok jadi tempat daur ulang. Lumayan, kali masih bisa dipake buat hal lain.

Tapi begitulah. Dari sekian banyak "ya iya, sih" dan "iya, ya" yang keluar secara lisan guna menutup diskusi senyap di kepala, semoga tidak buang sampah sembarangan.

Intro

Ada satu hal yang selalu gue sempetin setiap kali gue keluar kota. Spesifiknya, ke luar kota yang ga ada pencemaran cahayanya. Ya, malam harinya, gue sempetin buat keluar, ngedongak buat liat langit. Langit malam di tempat yang minim pencemaran cahayanya 'tu mesmerizing.