Minggu, 18 November 2018

Desultory 1.1

Gue punya notes di handphone dengan judul "Desultory". Jadi, itu alasan kenapa tiba-tiba di sini jadi "Desultory 1.1". Kenapa 1.1? Karena kalimat terakhir di "Desultory" kayak gini.
"Ia duduk, menyaksikan besok yang membesar dan kemarin yg (terlihat) semakin kecil.
Semakin besar, ia lihat besok yg tak asing.
Ia duduk, beristirahat, mengetahui masih ada kanan."
Beberapa waktu lalu, GnR konser di Indonesia. Gue ga nonton karena taunya telat (h-2) dan karena ga niat. Di sosmed, gue sempet liat postingan orang yang nonton. Yang nonton di festival bagian depan pada megang hape n ngerekam. Kadang gue keganggu sih sama hal yang kayak gitu, khususnya kalo yang ditonton band musik rock atau metal. Tapi, ya bisa jadi mereka perlu dokumentasi tsb buat kenang-kenangan. Mungkin satu-dua foto atau semenit-dua menit video aja ga cukup. Perlu full sepanjang lagu/konser.
Semoga aja ada band/artis yang salah satu syarat konsernya yaitu ga boleh ngerekam pas konser atau mereka kasih waktu buat foto-foto, sisanya hp disimpan (ya, band juga butuh eksis di sosmed kan).
Sebagai orang yang masih belum memahami maksud dan tujuan dari solo traveling, tiba-tiba aja gue kepikiran tentang jarak bintang dan waktu tempuh cahayanya sampai ke Bumi. Ya, gue pernah baca kalau itu perlu sekian tahun cahaya dan berarti cahaya bintang yg gue liat sekarang adalah cahaya sekian tahun cahaya yang lalu.
Ah, niat nulis gue ilang.

Minggu, 21 Oktober 2018

Tempatnya

Suatu hari gue kepikiran. Ga kepikiran, sih. Gue cuma kyak, yah, sekelebat aja.
Gue termasuk orang yang jarang cerita perihal pribadi ke orang lain. Sangat jarang, antara lain karena merasa ini urusan gue, lau tau pun paling cuma gitu-gitu aja reaksinya. Ya, based on ke-sotoy-an, sih.. wokwokwok.
Karena, ya kalau sekedar cerita, mending ga usah. Kecuali, dalam cerita tersebut, gue minta/cari solusi.
"Tapi kan mayan cerita supaya lega, Lin."
Yah, klo cuma pengen lega, ngelus-ngelus kucing di tukang pecel ayam udah cukup lah buat gue.

Gue ga cukup "kaya" buat punya "tempat sampah". Atau mungkin "I am my own trash can"?
Recycle bin. Ya, kalau pun tong sampah itu ada di diri gue sendiri, itu lebih cocok jadi tempat daur ulang. Lumayan, kali masih bisa dipake buat hal lain.

Tapi begitulah. Dari sekian banyak "ya iya, sih" dan "iya, ya" yang keluar secara lisan guna menutup diskusi senyap di kepala, semoga tidak buang sampah sembarangan.

Intro

Ada satu hal yang selalu gue sempetin setiap kali gue keluar kota. Spesifiknya, ke luar kota yang ga ada pencemaran cahayanya. Ya, malam harinya, gue sempetin buat keluar, ngedongak buat liat langit. Langit malam di tempat yang minim pencemaran cahayanya 'tu mesmerizing.

Minggu, 12 Agustus 2018

Rencana Akhir Pekan

Gue selalu berniat untuk ngulik bass tiap weekend yang mana selalu berakhir wacana. Hal negatifnya adalah, gue mulai mengambinghitamkan niat beli bass akustik, wokwokwok. "hhh, ini pasti males latian karena bass-nya elektrik. Gue mesti ngeluarin bass dari lemari, nyetem senar, muter truss rod, mindahin ampli, nyolokin ampli, nyolokin jack, ngatur volume ampli, ambil minum, nyuci motor, nge-twit, nyiram kembang, ....," yang akhirnya malah ga jadi main. Ck. Niat ngulik bass ini muncul karena belakangan ini lagi keseringan dengerin djent. Gokil, sih. Sayangnya baru nemu di-akhir-akhir zaman kuliah pas dengerin Periphery.

Karena belum terwujud, gue pun mencoba menurunkan target, yaitu dengan namatin buku. Sayangnya cuma berhenti sampai di niat. Hal lain yang ga diniatin malah dikerjain -_-

Kalau standar-nya gue turunin lagi, paling mentok di ngerjain kegiatan rumah --yang mana udah selesai sebelum jam 12 siang-- terus nonton film. Entah kenapa nonton film di komputer udah ga semudah dulu. Padahal sekarang internet udah cepet, kualitas film bajakan internet juga udah bagus, tapi kayaknya kurang kalo ga nonton di bioskop. Jadinya, ya, mentok di niat lagi. Nonton film di bioskop pun ga bisa tiap saat karena ga tiap minggu ada film bagus.

Hal yang berjalan belakangan ini, sih, ngajak ponakan jalan-jalan. Ngajak ke wisata dalam kota atau sekedar sepedahan ke UI. Kadang baru berasa "udah banyak pengalaman"-nya kalo lagi ngajak ponakan jalan-jalan. Pergi ke tempat yang dulu pernah gue kunjungin terus cerita ke mereka kalo dulu udaknya pernah ke sini pas masih kecil sama opung n oma nya. Makin sadar kalo ternyata tempat tersebut udah jauh berubah, wokwokwo.

Makin ke sini, waktu serasa semakin mahal buat gue. Ga kebayang nanti. Semoga makin bisa kebeli dan ga langka pas lagi dibutuhin. Aamiin.

Rabu, 25 Juli 2018

A Playlist Running Through My Head

The way your heart sounds
Makes all the difference
It's what decides if you'll endure the pain that we all feel
The way your heart beats
Makes all the difference
In learning to live
I just can't help myself
I'm feeling like I'm going out of my head
Tears my heart into two
I'm not the one the sleeper thought he knew
I remember when
I remember, I remember when I lost my mind
There was something so pleasant about that place
Even your emotions have an echo in so much space
And I wonder
When I sing along with you
If everything could ever feel this real forever
If anything could ever be this good again
The only thing I'll ever ask of you
You've got to promise not to stop when I say when
Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose
Oh don't you know, I love, love ya
I'll never let go, oh, i love ya
In all of my dreams, you're all I see
What can I do, but love you
What a fool!
I don't know about tomorrow
What it's like to be
I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books
I don't know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
I don't know if I should
I don't know if I could
(ride a white swan)
Sunlight dances through the leaves
Soft winds stir the sighing trees
Lying in the warm grass
Feel the sun upon your face
A doctor sitting next to me
He asks me how I feel
Not sure I understand his questioning
He says I've been away a while
But thinks he has cured me
From a state of catatonic sleep
She shuts the doors and lights and lays her body on the bed
Where images and words are running deep
She has too much pride to pull the sheets above her head
So quietly she lays and waits for sleep
Spread before you is your soul
So forever hold the dreams within our hearts
Through nature's inflexible grace
I'm learning to live

Kamis, 10 Mei 2018

Hakikat

Playlist Songs for Sleeping seharusnya bikin orang pingin tidur, tapi saking damainya, gue malah ga pingin tidur, hhh. Gue malah keingetan kalimat quotes di buku yang gue baca tadi (Ya, buku yang gue beli beberapa waktu lalu). "Kenali dirimu dengan dirimu," kata Socrates. Dari situ, gue malah keinget kutipan Ali bin Abi Thalib, "Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu." Ya, gue punya pandangan sendiri untuk kutipan Ali karena maknanya pasti ga sesederhana itu.

Dari situ, berarti ada orang yang ga mengenali dirinya sendiri dengan baik. Dari mana dia bisa tau kalau dia kenal sama dirinya sendiri atau ngga? Bagaimana orang lain bisa lebih tau tentang dia dibanding dirinya sendiri?
Hal sederhana yang sempat kepikir, sih, salah satu (entah dari berapa) tanda orang yang belum mengenal baik dirinya ya orang yang belum tau apa yang dia pinginin (IMHO). Yah, yang dipinginin beragam, dari yang biasa sampai yang luar biasa.

Kamis, 19 April 2018

Olah Badan

Pas lagi ke apotek atau dokter, gue suka nyempetin buat nimbang badan. Secara, gue ga yakin timbangan di rumah masih bener. Terlalu malas buat kalibrasi, suka lupa buat beli baru.
Dari beberapa kali pindah timbangan, akhirnya gue yakin bahwa diet ini berhasil. Berat akhirnya di 63-64 kg. Dayum.

Anehnya, perut masih maju. Ini yang bikin kurang yakin kalo berat udh 64 kg. Gue coba inget-inget 4 tahun lalu pas berat di angka ini. Emang sih agak maju. Hal lain yang masih nyisa, rahang masih berpotensi double chin D:

Kalo nurunin sampe 60-62 kg, gue rasa udah ga sehat lagi.
Tentunya gue ga berenti di situ. Olahraga, walopun ga rutin, tetep gue usahain. Emang sejauh ini yang paling cocok olahraga repetisi macam gym. Renang? takut item. Lari? ngos-ngosannya bikin paru-paru kebakar.

Tapi, lari ngaruhnya cepat, sih. Mungkin karena sepanjang lari perut ketahan. Sayangnya cuma bisa lari pas weekend, itu pun sore. Tapi masih mending daripada ngga.
Balik ke perihal nurunin berat badan. Gue berasa metabolisme emang ga kayak dulu. Sekarang gue mesti bener-bener nahan. Nahan hasrat nyemil ataupun makan berlebih (makan malam 2 kali, misalnya). Seinget gue, pas berat 64 kg ke bawah emang gue jarang nyemil. Ga ada keinginan. Tapi, semenjak 65 kg ke atas, bawaanya pingin ngunyah tanpa alasan. Terus,  porsi nasi dikurangin dikit, lauk agak banyakan.

Niatnya sih, 2018 perut rata. Entah berapa pun beratnya. Tapi, paling gampang ya nurunin berat badan dulu. Wokwowko.

Rabu, 18 April 2018

Lamer

Selain pas mandi, di perjalanan mungkin jadi saat-saat paling pas buat gue jadi filsuf. Kayak tadi misalnya gue main cocok-logi antara kebiasaan gue milih barang-barang warna hitam dengan arti dari warna hitam. Ngga, gue ga jabarin arti warna hitam yang gue karang sendiri. Yang mau gue tulis yaitu kenapa gue milih warna hitam, bukan warna lain. Yaitu karena males mikir.

Contohnya: baju. Dulu gue punya kebiasaan gonta-ganti baju-celana pas mau pergi. Lumayan cape, terutama pas ngelipat balik yang udah dicobain. Semenjak gue beli celana hitam, semua jadi lebih mudah.

Ya, gue ga mau mempersulit diri sendiri. Segala kebiasaan overthinking (yaelah) pun ga gue thinking-in. Contohnya lagi: update blog.

Dari kemarin mikir mau nulis apa gitu yang berbobot atau paling ga ada isinya. Tapi sayangnya cuma remeh-temeh subjektif doang yang kepikiran. Sayangnya/untungnya gengsi ini masih ngingetin. "Lu 'kelepasan' dikit pas lisan aja, besoknya nyesel. Apalagi lu tulis, Benga," wokowkowkok.

Oiya, kemarin gue beli buku. Terakhir kali beli buku itu tahun lalu dan baru kebaca 1/3. Terus kenapa beli buku lagi? Karena nanti mudah-mudahan dibaca. Paling ngga gue beli barang yang guna. Daripada sebulan lalu gue beli isi ulang cukuran jenggot sampe 24 buah (karena paketan murah). Padahal bulu kumis aja bisa diitung (kalo rajin) dan pembelian terakhir (4 buah) bisa buat 6 bulan.

Ya, belakangan ini beberapa hal memang mesti dicari cara mudahnya.

Rabu, 04 April 2018

Nonton Topeng Monyet dari Jauh

Emang paling enak.
Ya, nontonin topeng monyet dari jauh, sambil ngantongin duit seribuan emang paling enak. Hiburannya dapet. Bayar? Tergantung ada yang mintain atau ngga. Kalau pun didatengin, di kantong udah siap seribuan. Kalo ga diminta? Seribu tetap di kantong. Toh, nonton dari jauh.

Berpikir positif, kadang nyerempet naif. Bukannya ga mau realistis, tapi ga ada energi aja buat yang begitu. Toh, itu "realistis" dari sudut pandang yang mungkin nontonnya lebih jauh dari gue dan ga megang seribuan. Jadi, gue cari nyamannya aja. Beda dari orang yang keluar dari zona nyaman, gue justru pengen nyaman entah itu di luar atau dalam. Ahh, enaknya omong doang.

Nyatanya semua balik ke sudut pandang. Gimana melihat cobaan sebagai boss yang mesti dikalahin buat naik level, gimana melihat kemudahan sebagai bonus level, dan bersyukur masih bisa merasakan berat maupun ringan.

Nyatanya malam ga selalu tenang. Mungkin 'ya di luar.

Sabtu, 17 Maret 2018

Untuk

Buat gue, kesenangan yang ga bisa dibagi itu hampa. Karena itu, gue ga mau seneng sendiri. Tapi 2k18 agak aneh. Boro-boro diajak susah, diajak senang aja orang kadang ga mao. Yah, mungkin karena obyek senangnya beda dan itu ga perlu dipaksakan.
Menurut gue, kesenangan/kebahagiaan itu diciptakan, bukan dicari. Semua berawal dari diri sendiri dan rasa syukur. Banyak definisi lain, tapi se-ngganya ini yang gue yakini saat ini dan meringankan gue saat cari alasan.

Cuma, kadang gue ngerasa malah definisi itu yang bikin gue susah berbagi kesenangan ke orang, hahaha.

Senin, 12 Februari 2018

Di mana? Ke mana?

Gue suka pilih-pilih waktu buat minum kopi. Dan sejauh ini, ngopi paling enak masih tetep pas di rumah. Kenapa di rumah? Karena kopi image nya santai. "Ngopi-ngopi yuk," orang biasa bilang gitu klo mau ajak obrol-obrol santai. Ya, gue santai kalau di rumah.

Hari ini, atau tepatnya kemarin, gue rancana buat bikin kopi di rumah. Kopi sasetan. Tapi, nyatanya sampai jam segini ga kerobek tu bungkus kopi. Padahal hari ini lumayan santai. Gue sempet tidur sore, bangun-bangun ngemil kue, bahkan Sabtu malam kemarin, gue sempet beli kue putu, tapi tetep tu kopi ga keseduh.

Kayaknya karena dua hari ini ga ujan. Cuaca terlalu cerah buat orang yang pengen ngabisin waktu ngopi-ngopi di rumah sambil (ngga, ga baca buku. Klise dan cuma niatnya doang) nge-yutub.
Bicara soal di mana dan ke mana (oke, tiba-tiba ganti topik), gue keinget sama orang yang dulu pernah ngasih semacam optimisme ke gue (oke, ga nyambung). Sebenernya udah lama mau nulis ini, tapi kebanyakan entar-besok.

Waktu SD, pas pulang sekolah, hujan turun. Gue jalan kaki sambil pake payung kecil. Tiba-tiba ada orang yg turun dari angkot minta nebeng payung. Orang laki-laki pulang kerja gitu. Dia sempat nanya minus kacamata gue, "Pakai kacamata ya? Min berapa?" Gue bilang, "1,5, tapi ini silinder," gue infoin kalo silinder itu ga bisa sembuh. "Bisa kok, kamu mesti yakin. Nanti pasti bisa sembuh."
Karena beda arah, dia lanjut hujan-hujanan. Obrolannya cuma sekitar lima puluhan meter.